Sebuah Catatan Kegelisahan

Minggu, 19 Agustus 2007

Menjadi Kuli di Negeri Sendiri !

Soekarno-Hatta sering mengutip ucapan Helfferich bahwa Indonesia adalah bangsa kuli di bawah bangsa-bangsa lain-eine Nation von kuli und kuli unter den Nationen-kadang-kadang kita dramatisasi sendiri sebagai het zachtste volk ter aarde, een koelie onder de volkeren, sebagai suatu julukan buat keinlanderan bangsa kita. Hatta menyebut hal ini sebagai "kerusakan sosial" akibat penindasan VOC, cultuurstelsel, dan kebengisan dalam pelaksanaan Agrarische Wet 1870.

Hal yang ungkapkan Sukarno benar adanya, banyak rekan-rekan gerakan mahasiswa yang menyalahkan "ini akibat Kapitalisasi global" pembelian kantor dagang nasonal yang diakuisisi, padahal tidak itu saja pasar global adalah bentuk kelemahan bangsa kita sendiri untuk bertahan dari "serangan asing", asal tahu saja bangsa kita belum siap dengan segala macam perubahan, ditingkat pendidikan saja dana BOS yang sering dikucurkan malah membuat kesulitan pengalaokasian tiap sekolah yang akhrnya justru terjadi malpraktik keuangan, membeli ini dan itu, kalau kata rekan saya "ibarat anak kecil yang diberi uang 1 juta" bingung mau dibelanjain apa. itulah lemahnya Sumber daya manusia kita.

Bangsa kita juga menjadi bangsa pengekspor kuli terbesar lihat saja dari hari-hari
kita semakin tersisih. Kemartabatan bangsa kuli ini ternyata tetap laten, bahkan sering tertransformasi ke dalam proses kuasi-modernisasi dengan segala kesemuannya. Atau adagium absurd ini betul-betul menjadi "senjata makan tuan", menjadi suatu self-fulfiling prophecy, karena hakikat keminderan tidak terkikis oleh sisa-sisa keinlanderan. Bangsa ini berjalan di tempat dalam upaya "mencerdaskan kehidupan bangsanya". Kasus Nirmala Bonat dan banyak teman-temannya ibarat suatu self-confirmation terhadap ucapan Helfferich itu.

Mengapa kita tidak mampu mengatasi pelecehan TKW Indonesia ini? Sejak lebih dari tiga dekade hal ini terjadi, padahal di dalam kabinet selalu ada menteri-menteri perempuan, bahkan ada sederetan menteri perempuan yang mengurus peranan wanita. Justru terkesan para elite wanita Indonesia sendiri kurang aktif menanggapi dan mengoreksi hal ini. ya kita ini adalah "pengekspor manusia mentah"

Pekik kemerdekaan yang jatuh pada tiap 17 Agustus hanya kita anggap sebagai pekik kemerdekaan sehari saja. hingga kini kita terus dihisap oleh komprador-komprador yang justru berasal dari orang pribumi, maka tidak salah kta menjadi negara kelima terbesar korupsinya. Indonesia hanya satu langkah di bawah negara Timor Leste, negara yang baru saja merdeka. Oleh seharusnys semua pihak seyogianya menyadari masalah itu dan pemerintah sebaiknya juga menetapkan korupsi merupakan kejahatan yang luar biasa (extraordinary).Bangsa Ini belum bisa membuka mata dan tak bisa melepaskan dari jeratan prosedur hukum yang tidak membela rakyat. ketika banyak pasar digusur justru banyak mall dibangun, ketika banyak sekolah digusur banyak pula apartemen didirikan. Begitu banyak SDA di negara ini begitu banyak pula TKW dan TKI di Ekspor.

Tikus-tikus politisi terus menggondol setiap celah hukum untuk memperkaya kepentingan pribadi, kita terus meminta negara lain ber inventasi tapi sekaligus juga membunuh produksi kecil, ketika Bank mulai memudahkan kredit bagi pemilik rumah dan mobil serta pinjaman BLBI tapi menyusahkan para wiraswasta pendatang baru, kita hanya berdebat keras mana seharusnya lagu Indonesia yang akan dinyanyikan apakah satu stansa atau 3 stansa. sungguh sebuah paradoks yang nyata di tanah Indonesia.

Ya memang ini kenyataan yang harus diakui , keinginan untuk merdeka dari penjajah memang sudah terpenuhi tetapi ternyata tantangan berat kita sendiri adalah melepaskan diri dari hisapan saudara sendiri yang tega menjadikan kita menjadi kuli-kuli di bangsa sendiri.



posted by Bang Fajar at 22.44 1 comments

UAN SAYA SETUJU , ASAL ?

Sejarah awal
Perdebatan mengenai Ujian Nasional (UN) sebenarnya sudah terjadi saat kebijakan tersebut mulai digulirkan pada tahun ajaran 2002/2003. UN atau pada awalnya bernama Ujian Akhir Nasional (UAN) menjadi pengganti kebijakan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas). Hanya, sementara Ebtanas berlaku pada semua level sekolah, UN hanya pada sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), madrasah tsanawiyah (MTs), sekolah menengah umum (SMU), madrasah aliyah (MA), dan sekolah menengah kejuruan (SMK). Untuk sekolah dasar (SD), sekolah dasar luar biasa (SDLB), sekolah luar biasa setingkat SD (SLB), dan madrasah ibtidaiyah (MI), Ebtanas diganti dengan ujian akhir sekolah.

Beberapa hal positif memang terjadi di bebarap siswa Indonesia , adanya UAN makin meningkatkan kualitas belajat mereka, bahkan bagi siswa SD kelas 4, 5 dan 6 persiapan sudah dilakukan sedini mungkin, bahkan persiapan kurikulum dibeberapa sekolah dasar sudah diarahkan bagaimana bisa menembus lulus UAN (dalam artian positif).

Orang-orang aneh
inilah faktor yang menjadi pengganjal utama kenapa banyak lembaga pendidikan melakukan potong kompas untuk melakukan perbuatan curang, saya juga yakin banyaknya sekolah menolak Uan dikarenakan kesadaran yang terlambat untuk menilai rendahnya kualitas pendidikannya sendiri.
saya mohon maaf kepada guru-guru yang melakukan demo kejakarta bebrapa hari lalu, bahwa penunututan anggaran 20 % kepada pemerintah saya anggap salah alamat, kenapa ?
karena peningkatan anggaran pendidikan sebetulnya adalah tanggung jawab DAU dari sebuah pemerintah daerah, sebut saja Jakarta yang sudah menaikan anggaran pendidikan menjadi 21 %. sebetulnya keberpihakan daerah kepada pendidikan juga harus di tuntut. ini sudah harga mati bung
hubungan antara dana dan UAN
sayangnya anggaran pendidikan yang sdah saja pun justru di"makan" oleh guru-guru itu sendiri untuk kepentingan fisik, catat saja di papua terdapat dana 169 Milyar yang dialokasikan untuk pendidikan tapi nyatanya justru di papua Pendidikan menjadi barang mahal dimana tidak semua orang bisa sekolah, ini mengaklibatkan pergeseran intelektual orang-orang pribumi dengan orang-orang pendatang, apalagi jika berbicara tes UAn di Papua, ah jangan tanya ...
UAN untuk masa depan
kedepan UAN saya berharap menjadi pintu seleksi bagi peradaban bangsa Indonesia jika dikelola dengan baik, bangsa ini harus melakukan pemotongan generasi jika tidak ingin ketinggalan. kecurangan harus dihentikan, dibeberapa daerah sudah tidak menjadi rahasia umum bahwa setiap sekolah berjuaang agar semua siswa lulus UAN walaupun dengan cara kotor. bahkan beberapa guru yang membongkar justru dikenai sangsi.
to be continue



posted by Bang Fajar at 19.41 0 comments