Sebuah Catatan Kegelisahan
Rabu, 25 Juli 2007
Ironi Gundik Nyai dan bangsa majemuk belia
Konon kabarnya bangsa kita ini masih sangat belia bila dibandingkan denganbudaya Mesopotamia atau Cina yang sudah punya sejarah tertulis ribuan tahunsebelum masehi. Dari prasasti yang dipelajari ahli sejarah, berita tentangnusantara baru terdengar tahun seribuan, kalau tidak salah dikenal raja Kudunggadan ratu Sima. Bisa dibayangkan 1000 tahun setelah Nabi Isa lahir, baru ada tanda kehidupan bermasyarakat di nusantara.
Agaknya yang bikin ramai nusantara karena pendatang dari daratan benua Asia.
Datangnya berkelompok bertahap, dari Cina selatan, India dan lebih jauh lagi
dari Arab dan Eropah. Motivasi kedatangan adalah faktor ekonomi untuk mencari
penghidupan agraris, perdagangan pelayaran. Kayaknya agama dan tradisi melekat
pada kelompok terkait dan berkembang dalam komunitasnya.
Proses interaksi antar kelompok itu membaur berasimilasi plural bernekaragam.
Lalu ada periode kerjaan Hindu/Budha/Islam. Komunitas/negrara/bangsa belia yang
rapuh mudah diprovokasi dan takluk hanya oleh segelintir kompeni VOC. Setelah
senasib melarat menderita terhina diperhamba kompeni VOC/Belanda, maka lahirlah
bangsa Indonesia.
Hampir dapat dipastikan bahwa pada era parahu/kapal layar, bauran asimilasi
pendatang baru terikat dengan perkawinan sah jangka panjang. Bagaimana mau kawin
kontrak, perahunya saja belum tentu bisa kembali keasalnya.
Setelah ada kapal bermesin uap dan lalu lintas pos, pola kawin kontrak baru
dikenal. Artinya pria pendatang punya keluarga di kampung halamannya. Namun
kalau berlayar ke negeri lain, harus berpisah bilangan tahun sehingga untuk
memenuhi naluri alamiahnya mereka mencari pasangan. Sebetulnya kurang tepat
bila disebut kawin kontrak, istilahnya gundik atau nyai yang sewaktu-waktu bisa
diusir dan diganti. Biasanya tuan-tuan Belanda/Eropah dan saudagar cina yang
kaya memelihara nyai yang diberi kehidupan jauh lebih baik dari pribumi termasuk
pendidikan bagi sinyo/nona indo anak yang terlahir. Status sosialnya jadi
terangkat diatas kaum pribumi.
Pendatang asing semakin banyak ketika pemerintah Hindia Belanda memberi
konsesi membuka perkebunan/onderneming baru. Mayoritas pribumi beragama Islam
dan pada waktu itu tuan-tuan bangsa asing menyebutnya orang selam. Para nyai
pribumi asalnya orang selam, tapi setelah jadi nyai terpisah dengan keluarganya.
Kenapa jadi nyai? Bisa karena kemiskinan, terbelit hutang, dijual atau
dijerumuskan oleh pamong jawara desa yang mengabdi si tuan asing. Bagaimana
reaksi alim ulama ketika itu? Agaknya tidak berdaya, kalah jauh dengan
kewibawaan penjajah. Kala itu orang belanda mengatakan zaman normaal.
Sejarah kayaknya seperti siklus ekosistem atau spiral melingkar waktu. Polanya
mirip tapi beradaptasi dengan ruang waktu zamannya. Dewasa ini banyak yang
bersepakat bahwa bangsa kita semakin terpuruk dan jumlah penduduk miskin
meningkat terus. Ada kartu dan subsidi untuk keluarga miskin. Ada pemeo
mengatakan kemiskinan bersisian dengan kekufuran.
Soal kawin kontrak mulai kita dengar ketika pemerintah orde baru memberi
konsesi penebangan hutan secara besar-bsaran yang melibatkan banyak pekerja
asing tinggal lama di pedalaman Kalimantan. Yang dikontrak tentu warga setempat
yang miskin dan butuh kehidupan layak. Sebagai comblang perantaranya, siapa lagi
kalau bukan bangsa sendiri.
Karena kemiskinan, ratusan ribu wanita remaja dari desa termasuk ibu muda
bersuami menjadi TKW babu PRT di luar negeri, semuanya mendambakan kehidupan
yang layak. Sebagai perekrut penyalur TKI, siapa lagi kalau bukan bangsa
sendiri.
Yang terbaru, wapres JK men “trigger” adanya turis Timur Tengah yang
membutuhkan janda wanita penduduk kawasan Puncak Jawa Barat. Bukankah janda
wanita itu warga kurang beruntung yang mendambakan kehidupan layak bagi anak dan
masa depannya? Sebagai comblang perantara dan pihak yang melegalisir, siapa lagi
kalau bukan bangsa sendiri.
Polanya, sekali lagi polanya kan sama dengan rekrutsi gundik nyai di zaman
normaal. Ada kemiskinan, terbelit hutang, “dijual” dan penjerumusan. Ada jawara
penyalur menerima upah dan komisi merangkap pemeras.
Ironi perbedaannya, gundik nyai dipakai tuan saudagar asing beda agama, sedang
tuan Timur Tengah seagama. Apakah sesederhana itu untuk beroleh pembenaran?
Masih menjadi pertanyaan kenapa politisi, birokrat dan kelompok yang lantang
mengibarkan panji-panji agama selalu bertikai internal, memusuhi pihak lain dan
alergi kemajemukan, sementara ratusan ribu perempuan umatnya selalu terancam dan
potensial terjerumus kelembah kehinaan.
Banyak yang sepakat prihatin atas keterpurukan kemiskinan bangsa, tapi banyak
pula yang bersilang sengketa saling sodok intrik menjatuhkan.
Fantastis.
from Superkoran apakabar
posted by Bang Fajar at 21.44




0 Comments:
Posting Komentar
<< Home