Sebuah Catatan Kegelisahan

Minggu, 19 Agustus 2007

UAN SAYA SETUJU , ASAL ?

Sejarah awal
Perdebatan mengenai Ujian Nasional (UN) sebenarnya sudah terjadi saat kebijakan tersebut mulai digulirkan pada tahun ajaran 2002/2003. UN atau pada awalnya bernama Ujian Akhir Nasional (UAN) menjadi pengganti kebijakan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas). Hanya, sementara Ebtanas berlaku pada semua level sekolah, UN hanya pada sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), madrasah tsanawiyah (MTs), sekolah menengah umum (SMU), madrasah aliyah (MA), dan sekolah menengah kejuruan (SMK). Untuk sekolah dasar (SD), sekolah dasar luar biasa (SDLB), sekolah luar biasa setingkat SD (SLB), dan madrasah ibtidaiyah (MI), Ebtanas diganti dengan ujian akhir sekolah.

Beberapa hal positif memang terjadi di bebarap siswa Indonesia , adanya UAN makin meningkatkan kualitas belajat mereka, bahkan bagi siswa SD kelas 4, 5 dan 6 persiapan sudah dilakukan sedini mungkin, bahkan persiapan kurikulum dibeberapa sekolah dasar sudah diarahkan bagaimana bisa menembus lulus UAN (dalam artian positif).

Orang-orang aneh
inilah faktor yang menjadi pengganjal utama kenapa banyak lembaga pendidikan melakukan potong kompas untuk melakukan perbuatan curang, saya juga yakin banyaknya sekolah menolak Uan dikarenakan kesadaran yang terlambat untuk menilai rendahnya kualitas pendidikannya sendiri.
saya mohon maaf kepada guru-guru yang melakukan demo kejakarta bebrapa hari lalu, bahwa penunututan anggaran 20 % kepada pemerintah saya anggap salah alamat, kenapa ?
karena peningkatan anggaran pendidikan sebetulnya adalah tanggung jawab DAU dari sebuah pemerintah daerah, sebut saja Jakarta yang sudah menaikan anggaran pendidikan menjadi 21 %. sebetulnya keberpihakan daerah kepada pendidikan juga harus di tuntut. ini sudah harga mati bung
hubungan antara dana dan UAN
sayangnya anggaran pendidikan yang sdah saja pun justru di"makan" oleh guru-guru itu sendiri untuk kepentingan fisik, catat saja di papua terdapat dana 169 Milyar yang dialokasikan untuk pendidikan tapi nyatanya justru di papua Pendidikan menjadi barang mahal dimana tidak semua orang bisa sekolah, ini mengaklibatkan pergeseran intelektual orang-orang pribumi dengan orang-orang pendatang, apalagi jika berbicara tes UAn di Papua, ah jangan tanya ...
UAN untuk masa depan
kedepan UAN saya berharap menjadi pintu seleksi bagi peradaban bangsa Indonesia jika dikelola dengan baik, bangsa ini harus melakukan pemotongan generasi jika tidak ingin ketinggalan. kecurangan harus dihentikan, dibeberapa daerah sudah tidak menjadi rahasia umum bahwa setiap sekolah berjuaang agar semua siswa lulus UAN walaupun dengan cara kotor. bahkan beberapa guru yang membongkar justru dikenai sangsi.
to be continue



posted by Bang Fajar at 19.41

0 Comments:

Posting Komentar

<< Home