Sebuah Catatan Kegelisahan
Rabu, 25 Juli 2007
Krisis Membaca

Dalam sebuah penelitiian serta tes yang diselenggarakan International Education Achievement IEA - asosiasi internasional untuk evaluasi dan pencapaian pendidikan – kita melihat ternyata murid SD Indonesia hanya ada di peringkat kedua dari bawah. (Kompas, 30/4). Bahkan menurut pengamat pendidikan Dr. Mochtar Buchori dibandingkan sesama negara anggota ASEAN saja, kita sudah kalah. Jangankah dengan Singapura, dengan
Dalam tes tersebut dibandingkan dengan
Apa yang telah terjadi ?
Tidak dapat dipungkiri kenyataan diatas terkait dengan kemampuan menulis dan membaca murid kita yang masih sangat memprihatinkan. Dan dengan budaya yang semakin mengerdil ditingkatan anak ditambah serangan media yang tak pandang bulu “menghajar” sudut-sudut ruang intelektual mereka (anak) termasuk kita sebagai orang tua dan pengajar.
Ketidakmampuan beradaptasi pada hal-hal yang positif diakibatkan skala prioritas yang tidak jelas. Kini membangun budaya cultural yang lebih intelektual justru dianggap tidak berkwalitas dinegeri ini. Maka jangan salah jika acara di TV quiz-quiz dan infotaiment lebih besar porsinya daripada media intelektual itu sendiri.
Ditingkatan yang lebih kecil (keluarga) ketidakpedulian kita dalam hal yang sederhana (membaca) inilah menjadi pangkal akumulasi perubahan perilaku anak murid kita, kita justru lebih banyak mengeluarkan post anggaran rutin yang berhubungan dengan materi ketimbang membelikan buku baru tiap bulannya bagi anak kita. Sebagai catatan sudahkah kita menghiasi kamar anak kita dengan buku-buku yang bermanfaat, seperti cerita fiksi,novel, tokoh sejarah , karya ilmiah dan lainnya.
Ya, kebiasaan membaca memang harus dimulai dari stakeholder terkecil, bahkan sekolah-sekolah di China tercatat mempunyai jumlah 5000 koleksi buku, harus diakui memang minat baca di Indonesia masih sangat rendah, terutama di Jawa Barat. Sebagai parameter adalah kemampuan komprehensif yang hanya 36,5% dan kecepatan baca yang hanya 200 hingga 300 kata per menit. Belum lagi apresiasi baca yang belum baik. Hal itu dipeparah dengan daya dorong yang masih kurang. Misalnya jumlah koleksi buku yang dimilik setiap sekolah rata-rata hanya berkisar 200-300 eksemplar, jelas sangat berbeda dengan
Semua berperan
Saya jadi teringat dengan kata-kata Prof. Dr. Sunardi, M.Sc salah satu dosen saya dari UNS bahwa Kegagalan pendidikan itu berkorelasi dengan realitas perilaku masyarakat. Sebenarnya masalah keengganan dalam hoby membaca dan tulis tersebut bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan sekolah. Bahkan Kegagalan dalam pembinaan etika, moral, dan kepribadian. Sangat salah besar jika hanya ditimpakan kepada sekolah, tetapi justru keluarga dan masyarakat yang berperan lebih besar. Jika Thomas alfa
Membangkitkan minat membaca bagi anak harus sudah kita teriakan saat ini. Kita pun yakin suatu hari Negara ini akan lebih baik dari Negara lain. Asal dengan usaha yang kuat dan kesadaran positif bagi anak didik kita. Seperti pendapat Rush Karim, pendidikan sesungguhnya bertugas menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan tertentu dalam masyarakat di masa mendatang.
Maka sebagai ahli waris generasi mendatang sudah kah kita menyiapkan generasi terbaik untuk jamannya kelak.




0 Comments:
Posting Komentar
<< Home